Pulau Penyengat di jadikan maharguna meminang seorang putri. Banyak bangunan bersejarah, mulai masjid yang di bangun menggunakan putih telur hingga makam pahlawan nasional bidang sastra, yang melahirkan gurindam dua belas. Bagaimana peserta BJRB menikmati suasana di pulau tersebut?.
Perjalanan peserta Bintal Juang Remaja Bahari pangkalan TNI AL Pontianak, dilanjutkan ke sebuah pulau yang banyak menyimpan pesona. Pulau Penyengat merupakan bagian kepulauan yang terpisah oleh lautan. Namun dengan luasnya yang tak seberapa, sejuta kenangan tercipta.
Setelah singgah di markas, komando pangkalan utama TNI AL IV Tanjung Pinang, perjalanan dilanjutkan kepulauan Penyengat. Dari markas komando jaraknya tidak jauh. Sekitar 15 menit rombongan sampai ke sebuah dermaga. Perjalanan di lanjutkan dengan menggunakan Pompong atau kapal kecil yang mempunyai atap digerakkan dengan mesin.
Penyebrangan hanya membutuhkan waktu 10 menit. Kalau penumpang biasanya akan dikenakan tarip tiga ribu rupiah. Setelah itu pengunjung akan disambut gapura yang bertuliskan
"Selamat Datang di Pulau Penyengat".
Senyum ramah tampak dari warga Pulau tersebut. Sambutan hangat itu menambah penasaran terhadap keelokan dari pulau Penyengat. Pertama kali membangun mesjid tua yang berdiri megah menyambut ke datangan peserta BJRB 2009. Raja Haji Abdurahman ketua pengurus mesjid Raya Sultan Riau pulau Penyengat mengungkapkan, pulau ini hanya mempunyai luas 3,5 km. Pulau ini selain menyimpan sejarah berdirinya.
Banyak bangunan bersejarah lainnya. Pulau Penyengat merupakan pulau yang pernah dijadikan mahar dalam sebuah pernikahan. Pada 1803, Sultan Mahmud Riau meminang putri Raja Haji Fisabilillah yakni Engkau Putri Hamidah dan Raja Hamidah.
" jadi pemilik pulau ini adalah Engkau Putri Hamidah, pada waktu itu memang putri ini mempunyai peranan sangat penting dan banyak terhadap keputusan kerajaan dari pada Sultan Mahmud Riau itu sendiri ", tambahnya.
Nama pulau Penyengat, lanjutnya, berasal dari nama sebuah serangga yang punya kemampuan menyengat seperti lebah. Pulau ini di jadikan tempat persinggahan para pelaut dan masyarakat sekitar untuk mendapatkan air. Air di pulau Penyengat tidak asin. Sehingga banyak yang berdatangan hanya untuk mendapatkan air bersih tersebut, sekarang kepulau ini dibawah suaka Sumatera Barat.
" Pada waktu itu ada hewan sengat yang menyerang para pelaut saat mengambil air. Serangan tersebut menimbulkan kericuhan yang luar biasa, mereka sambil berlari meneriakkan kata "sengat", akhirnya pulau tersebut dikenal sebagai pulau Penyengat.
Di pulau Penyengat, lanjutnya, terdapat sebuah mesjid yang dulunya di bangun menggunakan campuran putih telur dengan pasir dan kapur. Sampai sekarang bangunan tersebut belum masih tampak kokoh. Pada 1218, Sang Raja memerintahkan pegawainya mendirikan mesjid di pulau Penyengat.
Sabtu, 12 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
anda boleh mengomentari blog ini setelah membaca postingan kami